Di luar itu, menurut buku Teori Dasar Listrik dan Elektronika oleh Muhammad Naim, terdapat 2 versi lain penemu pertama listrik sebelum Michael Faraday Versi pertama mengatakan listrik pertama kali ditemukan oleh bangsa Mesir Kuno. Hal ini ditandai dengan temuan beberapa pot aneh di Irak.
Beberapa pot aneh tersebut di antaranya kedap air dan berisikan silinder tembaga dengan kondisi dilem ke dalam lubang dengan aspal. Dalam silinder tersebut, ada sebuah batang besi.
Baca Juga:
Lebaran Idulfitri 1446 H, PLN Jawa Barat Sukses Jaga Pasokan Listrik Andal
Para penggali yang menemukan pot tersebut pada 1936 menyakini bahwa bagian tersebut merupakan elemen galvanik atau semacam baterai primitif. Dalam rekonstruksinya, diyakini bahwa alat tersebut memungkinkan munculnya listrik.
Pada penemuan lainnya, beberapa ahli menemukan motif lampu Dendera. Lampu Dendera adalah relief di kuil Hathor, Mesir. Saat itu, para ahli mengklaim bahwa objek di relief itu menggambarkan bola lampu kuno, meskipun teks di sekelilingnya menyatakan bahwa itu merupakan relief ular.
Sedangkan untuk versi kedua, sejarah penemuan listrik bemula dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thales dari Yunani. Penelitian tersebut dilakukan terhadap sebuah batu alam yang ia temukan di pinggiran kota Magnesia.
Baca Juga:
Siaga Penuh, PLN Jabar Sukses Jaga Keandalan Listrik di Momen Lebaran Idulfitri 1446 H
Batu-batu alam tersebut nampak bisa menarik benda yang terbuat dari besi. Sejak saat itulah, muncul istilah magnet atau magnetik yang dicetuskan oleh Thales. Selain itu, ia juga menguji batu-batu lainnya yang mirip dengan kaca atau warnanya keemasan layaknya batu ambar.
Kemudian, Thales merumuskan jika sebuah batu ambar digosokkan ke kain wol, maka batu tersebut bisa menarik serpihan-serpihan ringan daun kering, jerami atau bulu. Hal tersebutlah yang kemudian dikenal sebagai perpindahan elektron.
[Redaktur: Alpredo Gultom]